Minggu, 07 Juni 2020

CERPEN #2


1 tahun kemudian

Hari ini aku menghadapi masa sulit yaitu ketika aku masuk SMP(sekolah menengah pertama). Ketika itu aku ingin sekali sekolah di negeri namun ada tes tertulis dan nilai UN . nilai UN SD ku cukup memuaskan rata-rata Sembilan,namun aku ragu untuk menjalankan tes tertulis. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti tes tertulis di SMP kakakku salah satu SMP swasta di kabupaten Bogor. Ketika pengumuman tes aku sangat gembira karena aku dapat memasuki SMP itu dan lagi dan lagi 1 sekolah dengan kakakku. sebenarnya banyak cerita di SMP ini tapi aku tidak ingin menceritakannya, aku hanya ingin bercerita ketika aku sudah masuk kelas 3 SMP. Ketika itu aku sedang sakit perut bukan sakit biasa. Sempat divonis kalau aku kena “kanker Rahim”,”kista” ntah apa yang dokter katakana kemamaku. Akhirnya aku di suruh tes lab dan scan gitu. Dan ketauan hasilnya kalau aku hanya sakit “usus buntu”. Sudah takut bukan main mamaku ,aku santai aja. Akhirnya aku disuruh untuk operasi. Aku ingat sekali ketika aku ingin operasi itu 2 minggu sebelum try out. Selanjutnya aku menjalankan semua prosedur di rumah sakit. Nah yang menjengkelkan adalah pada saat itu aku sudah puasa dari jam 12 malam karena jadwal operasinya harusnya jam 9. Setelah aku masuk kamar inap dikasih tau kalau masih ada pasien yang gawat yang harus operasi akhirnya aku nunggu sampe jam 3 sore. Jam 3 sore aku baru masuk keruang operasi. Buat kalian yang tidak tau ruang operasi itu sangat dingin dan disitu aku hanya memakai pakaian operasi yang ijo itu tipis, dan ketika operasi baju itu dibuka tau dong dinginnya kaya gimana.

*Masuk ruang operasi*

Dokter anastesi : loh belum di infus?
Aku: belum dok , tadi sudah di cari untuk infus tapi tidak nemu
Dokter anastesi: gini aja ko susah (sambil memasang infus ditangan kiriku)
Oo iya ngomong-ngomong perawat dan dokter yang ada di ruang operasinya ganteng-ganteng jadinya aku tidak merasakan apapun. Sempat ingin dibius total namun kata dokternya cukup setengah aja. Saat bius mulai bereaksi aku disuruh untuk tiduran dengan tangan melentang kesamping ditopang alat. Ketika mulai operasi para perawat pun mengajakku ngobrol
Perawat : umurnya berapa dek?
Aku : 13 tahun
Perawat 2 : wah masih muda, sekolah dimana?
Aku : di SMP ****
Perawat : baru pertama operasi ya?
Aku: iya
Perawat 2: takut nggak?
Aku : sedikit
Perawat : mau tidur atau ngobrol aja?
Aku: tidur aja deh
Setelah aku berbicara itu tak lama kemudian perawat menyuntikkan sesuatu di infusku dan lama-lama aku pun kehilangan kesadaran.

Beberapa jam kemudian

Aku mulai tersadar dan ternyata aku sudah dipindahkan di ruang observasi dengan ibu jariku masih di kasih alat. Aku tidak merasakan apa-apa pada saat itu bahkan disentuh pun tak terasa mungkin karena obat biusnya masih bereaksi. Tak lama setelah itu aku dipindahkan kekamar inapku tepat pukul 9 malam. Bayangkan dari jam 3 sore sampai 9 malam. Bukan operasinya yang lama tapi menunggu dan masa pemulihan di ruang observasinya yang lama. Oo iya aku juga mau cerita pada saat aku diruang observasi nih. Tidak banyak yang tau cerita ini bahkan orang tuaku pun tak tau, kalian boleh percaya atau nggak silahkan.

Cerita ini berawal ketika aku sadar dari operasi dan aku sudah berada di ruang observasi. Dirruang itu aku tidak sendiri ,ada anak seumuran aku pada saat itu sedang di observasi juga dia sempat memegang tanganku sambil berbicara “kamu akan bisa lihat temanku sekarang tolong jaga dia” . setelah itu aku disadarkan oleh seorang perawat
Perawat : lihat apa dek? Mamanya ya? Mau dipanggilin?
Ketika itu aku sadar kalau tidak ada siapa-siapa saat itu. Mungkin itu efek dari bius tapi kalau menurutku itu nyata ,kenapa? Nanti kalian juga ngerti.
Perawat : dek?
Aku : eh iya , maaf mau nanya apa dari tadi aku disini sendiri?
Perawat: iya dek sendiri , memangnya kenapa? Kamu melihat seorang anak perempuan memegang tanganmu?
Aku: iya betul
Perawat: tidak perlu takut, ikutin saja apa yang dia bilang
Aku : memang dia siapa?
Tiba-tiba perawat lain masuk
Perawat 2: dek, mamanya ku suruh masuk ya?
Aku : iya

Dan tidak ditemukan jawaban anak itu siapa. Aku tidak memikirkannya saat itu karena aku focus pada kesembuhanku. Oke kita lanjut ke kamar inap. Jam 9 malam aku dipindahkan ke kamar inap,aku tidak menggunakan kamar yang vip karena aku menggunakan asuransi jadinya 1 kamar ada 3 orang pasien. 1 orang sakit parah tidak tau apa dan 1 lagi habis kecelakaan. Saat itu aku hanya boleh minum saja. Bayangkan betapa kosongnya perutku dari jam 12 malam sampai jam 9 malam lagi tidak makan dan minum. Tetapi itu semua tidak terasa karena aku diinfus dan aku masih ada pengaruh obat bius jadinya aku hanya tidur.

*Tepat jam 12 malam*

Aku terbangun karena suara teriakan orang yang berada disebelahku yang kecelakaan itu. Dia patah kaki dan tangan dan sangat kesakitan. Belum sepenuhnya aku sadar dari pengaruh bius,akhirnya aku meneruskan untuk tidur kembali

*Keesokan harinya*

Aku sudah boleh makan dan minum tetapi masih ada larangan yaitu aku tidak boleh mengangkat kepala sampai 24 jam. Saat itu aku mulai kepikiran tentang seorang anak di ruang observasi. Namun aku tidak ingin untk bercerita dengan siapapun hanya aku dan perawat itu yang tau. Aku juga heran dari mana perawat itu bisa tau. Tak lama kemudian aku diperiksa oleh dokter dan diberi antibiotic, untuk kalian yang belum tau rasanya antibiotic masuk lewat infus itu panas dan sakit banget. Setelah aku di periksa akhirnya dokter pun pergi.

2 hari kemudian

Badanku mulai pulih dan tidak ada lagi pengaruh obat bius. Namun kejadian aneh mulai muncul disini. Aku mulai merasakan bahwa aku sedang diawasi dan selalu diawasi. Ketika itu aku sedang tidak ditunggu oleh kedua orang tuaku dan orang disebelahku mulai teriak kembali dan tidak ada orang yang menjaganya. Aku ingin sekali membantunya tapi di tempatku tidak ada bell untuk memanggil suster atau perawat. Karena teriakannya yang begitu keras akhirnya ada salah satu perawat menghampirinya dan aku mulai tenang. Ketika malam aku sering mendengar suara anak kecil tapi aku selalu berpikir positif bahwa suara itu dari pasien sebelah.
Semakin hari aku semakin pulih. Semakin membaiknya aku semakin aku bisa merasakan kehadiran sosok yang tidak ku inginkan. Saat aku sudah dirumah dia semakin menggangguku. Sampai suatu ketika badanku mulai panas, kepalaku pusing dan terasa mual disitulah muncul sosok anak kecil nyata dihadapanku. Kaget sekaget kagetnya, penuh darah dan sangat bau amis. Rasanya aku ingin teriak tapi pasti nanti aku ditanya. Anak kecil itu pun berusaha menenangkan aku. Kintan satu nama yang terlintas pada saat aku melihatnya (itu bukan nama asli ya)
Kintan: kamu tenang saja aku tidak menyakitimu , dia sudah memintaku untuk menjagamu
Aku : bukan, dia menyuruhku untuk menjagamu bukan kamu yang menjagaku (berbicara dalam hati)
Kintan : tidak tari, dia hanya ingin kamu menemaniku
Aku : ko bisa tau apa yang aku ucapkan ya?(dalam hati)
Kintan : aku ini setan tari jadi tau
Setelah itu mamaku berusaha memanggilku dan aku pun menjawabnya
Mama: kamu kenapa? Apanya yang sakit?
Aku : pusing mah, mual
Mama: yaudah kamu tidur aja
Akhirnya aku memutuskan untuk tidur
Seiring berjalannya waktu aku tidak tau kenapa kintan ini tidak muncul lagi. Sampai suatu ketika aku sedang sakit dan dia pun muncul
Aku : kenapa kamu muncul disaat aku sakit saja?
Kintan: aku tidak tau tari , tapi aku senang berteman denganmu
Aku : apakah karena dia menyampaikannya tidak tuntas?
Kintan: aku tidak tau tari
Begitu seterusnya kehidupan ketika aku sakit aku akan bisa melihat mereka yang tak terlihat entah apa maksudnya dan ntah bagaimana ini bisa terjadi. Semua ini berjalan sampai aku masuk SMA.