1 tahun kemudian
Hari
ini aku menghadapi masa sulit yaitu ketika aku masuk SMP(sekolah menengah
pertama). Ketika itu aku ingin sekali sekolah di negeri namun ada tes tertulis
dan nilai UN . nilai UN SD ku cukup memuaskan rata-rata Sembilan,namun aku ragu
untuk menjalankan tes tertulis. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti tes
tertulis di SMP kakakku salah satu SMP swasta di kabupaten Bogor. Ketika
pengumuman tes aku sangat gembira karena aku dapat memasuki SMP itu dan lagi
dan lagi 1 sekolah dengan kakakku. sebenarnya banyak cerita di SMP ini tapi aku
tidak ingin menceritakannya, aku hanya ingin bercerita ketika aku sudah masuk
kelas 3 SMP. Ketika itu aku sedang sakit perut bukan sakit biasa. Sempat
divonis kalau aku kena “kanker Rahim”,”kista” ntah apa yang dokter katakana
kemamaku. Akhirnya aku di suruh tes lab dan scan gitu. Dan ketauan hasilnya
kalau aku hanya sakit “usus buntu”. Sudah takut bukan main mamaku ,aku santai
aja. Akhirnya aku disuruh untuk operasi. Aku ingat sekali ketika aku ingin
operasi itu 2 minggu sebelum try out. Selanjutnya aku menjalankan semua
prosedur di rumah sakit. Nah yang menjengkelkan adalah pada saat itu aku sudah
puasa dari jam 12 malam karena jadwal operasinya harusnya jam 9. Setelah aku
masuk kamar inap dikasih tau kalau masih ada pasien yang gawat yang harus operasi
akhirnya aku nunggu sampe jam 3 sore. Jam 3 sore aku baru masuk keruang
operasi. Buat kalian yang tidak tau ruang operasi itu sangat dingin dan disitu
aku hanya memakai pakaian operasi yang ijo itu tipis, dan ketika operasi baju
itu dibuka tau dong dinginnya kaya gimana.
*Masuk ruang operasi*
Dokter anastesi : loh
belum di infus?
Aku: belum dok , tadi
sudah di cari untuk infus tapi tidak nemu
Dokter anastesi: gini aja
ko susah (sambil memasang infus ditangan kiriku)
Oo iya ngomong-ngomong
perawat dan dokter yang ada di ruang operasinya ganteng-ganteng jadinya aku
tidak merasakan apapun. Sempat ingin dibius total namun kata dokternya cukup
setengah aja. Saat bius mulai bereaksi aku disuruh untuk tiduran dengan tangan
melentang kesamping ditopang alat. Ketika mulai operasi para perawat pun
mengajakku ngobrol
Perawat : umurnya berapa
dek?
Aku : 13 tahun
Perawat 2 : wah masih
muda, sekolah dimana?
Aku : di SMP ****
Perawat : baru pertama
operasi ya?
Aku: iya
Perawat 2: takut nggak?
Aku : sedikit
Perawat : mau tidur atau
ngobrol aja?
Aku: tidur aja deh
Setelah aku berbicara itu
tak lama kemudian perawat menyuntikkan sesuatu di infusku dan lama-lama aku pun
kehilangan kesadaran.
Beberapa jam kemudian
Aku mulai tersadar dan
ternyata aku sudah dipindahkan di ruang observasi dengan ibu jariku masih di
kasih alat. Aku tidak merasakan apa-apa pada saat itu bahkan disentuh pun tak
terasa mungkin karena obat biusnya masih bereaksi. Tak lama setelah itu aku
dipindahkan kekamar inapku tepat pukul 9 malam. Bayangkan dari jam 3 sore
sampai 9 malam. Bukan operasinya yang lama tapi menunggu dan masa pemulihan di
ruang observasinya yang lama. Oo iya aku juga mau cerita pada saat aku diruang
observasi nih. Tidak banyak yang tau cerita ini bahkan orang tuaku pun tak tau,
kalian boleh percaya atau nggak silahkan.
Cerita ini berawal ketika
aku sadar dari operasi dan aku sudah berada di ruang observasi. Dirruang itu
aku tidak sendiri ,ada anak seumuran aku pada saat itu sedang di observasi juga
dia sempat memegang tanganku sambil berbicara “kamu akan bisa lihat temanku
sekarang tolong jaga dia” . setelah itu aku disadarkan oleh seorang perawat
Perawat : lihat apa dek?
Mamanya ya? Mau dipanggilin?
Ketika itu aku sadar
kalau tidak ada siapa-siapa saat itu. Mungkin itu efek dari bius tapi kalau
menurutku itu nyata ,kenapa? Nanti kalian juga ngerti.
Perawat : dek?
Aku : eh iya , maaf mau
nanya apa dari tadi aku disini sendiri?
Perawat: iya dek sendiri
, memangnya kenapa? Kamu melihat seorang anak perempuan memegang tanganmu?
Aku: iya betul
Perawat: tidak perlu
takut, ikutin saja apa yang dia bilang
Aku : memang dia siapa?
Tiba-tiba perawat lain
masuk
Perawat 2: dek, mamanya
ku suruh masuk ya?
Aku : iya
Dan tidak ditemukan
jawaban anak itu siapa. Aku tidak memikirkannya saat itu karena aku focus pada
kesembuhanku. Oke kita lanjut ke kamar inap. Jam 9 malam aku dipindahkan ke
kamar inap,aku tidak menggunakan kamar yang vip karena aku menggunakan asuransi
jadinya 1 kamar ada 3 orang pasien. 1 orang sakit parah tidak tau apa dan 1
lagi habis kecelakaan. Saat itu aku hanya boleh minum saja. Bayangkan betapa
kosongnya perutku dari jam 12 malam sampai jam 9 malam lagi tidak makan dan
minum. Tetapi itu semua tidak terasa karena aku diinfus dan aku masih ada
pengaruh obat bius jadinya aku hanya tidur.
*Tepat jam 12 malam*
Aku terbangun karena
suara teriakan orang yang berada disebelahku yang kecelakaan itu. Dia patah
kaki dan tangan dan sangat kesakitan. Belum sepenuhnya aku sadar dari pengaruh
bius,akhirnya aku meneruskan untuk tidur kembali
*Keesokan harinya*
Aku sudah boleh makan dan
minum tetapi masih ada larangan yaitu aku tidak boleh mengangkat kepala sampai
24 jam. Saat itu aku mulai kepikiran tentang seorang anak di ruang observasi.
Namun aku tidak ingin untk bercerita dengan siapapun hanya aku dan perawat itu
yang tau. Aku juga heran dari mana perawat itu bisa tau. Tak lama kemudian aku
diperiksa oleh dokter dan diberi antibiotic, untuk kalian yang belum tau
rasanya antibiotic masuk lewat infus itu panas dan sakit banget. Setelah aku di
periksa akhirnya dokter pun pergi.
2 hari kemudian
Badanku mulai pulih dan
tidak ada lagi pengaruh obat bius. Namun kejadian aneh mulai muncul disini. Aku
mulai merasakan bahwa aku sedang diawasi dan selalu diawasi. Ketika itu aku
sedang tidak ditunggu oleh kedua orang tuaku dan orang disebelahku mulai teriak
kembali dan tidak ada orang yang menjaganya. Aku ingin sekali membantunya tapi
di tempatku tidak ada bell untuk memanggil suster atau perawat. Karena
teriakannya yang begitu keras akhirnya ada salah satu perawat menghampirinya
dan aku mulai tenang. Ketika malam aku sering mendengar suara anak kecil tapi
aku selalu berpikir positif bahwa suara itu dari pasien sebelah.
Semakin hari aku semakin
pulih. Semakin membaiknya aku semakin aku bisa merasakan kehadiran sosok yang
tidak ku inginkan. Saat aku sudah dirumah dia semakin menggangguku. Sampai
suatu ketika badanku mulai panas, kepalaku pusing dan terasa mual disitulah
muncul sosok anak kecil nyata dihadapanku. Kaget sekaget kagetnya, penuh darah
dan sangat bau amis. Rasanya aku ingin teriak tapi pasti nanti aku ditanya.
Anak kecil itu pun berusaha menenangkan aku. Kintan satu nama yang terlintas
pada saat aku melihatnya (itu bukan nama asli ya)
Kintan: kamu tenang saja
aku tidak menyakitimu , dia sudah memintaku untuk menjagamu
Aku : bukan, dia
menyuruhku untuk menjagamu bukan kamu yang menjagaku (berbicara dalam hati)
Kintan : tidak tari, dia
hanya ingin kamu menemaniku
Aku : ko bisa tau apa
yang aku ucapkan ya?(dalam hati)
Kintan : aku ini setan
tari jadi tau
Setelah itu mamaku
berusaha memanggilku dan aku pun menjawabnya
Mama: kamu kenapa? Apanya
yang sakit?
Aku : pusing mah, mual
Mama: yaudah kamu tidur
aja
Akhirnya aku memutuskan
untuk tidur
Seiring berjalannya waktu
aku tidak tau kenapa kintan ini tidak muncul lagi. Sampai suatu ketika aku
sedang sakit dan dia pun muncul
Aku : kenapa kamu muncul
disaat aku sakit saja?
Kintan: aku tidak tau
tari , tapi aku senang berteman denganmu
Aku : apakah karena dia
menyampaikannya tidak tuntas?
Kintan: aku tidak tau
tari
Begitu seterusnya
kehidupan ketika aku sakit aku akan bisa melihat mereka yang tak terlihat entah
apa maksudnya dan ntah bagaimana ini bisa terjadi. Semua ini berjalan sampai
aku masuk SMA.